Senin, 15 Agustus 2016

Menyoal Siapakah Sebanarnya Yang Disembelih Nabi Ibrahim?



وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. As-Shafat:107)
Nabi Ibrahim secara kronologis adalah seorang tidak mengenal putus asa  untuk mendapatkan  seorang anak. Disertai doa dengan sabar beliau selalu menanti seorang anak sholeh yang kelak dapat menjadi penerusnya. Hingga suatu saat Allah mengabulakan doanya kendatipun umur beliau ketika itu 86 tahun.
Ditengah Nabi Ibrahim menikmati karunia Allah berupa seorang anak, Allah hendak menguji iman kekasihnya, apakah kasih sayang Nabi Ibrahim terhadap putranya melebihi kasih sayangnya terhadap Allah. Melalui mimpi Nabi Ibrahim mendapat perintah untuk menyembelih putranya. Sebagaimana hadits dari Ibnu Abbas “Bahwa mimpi para nabi adalah wahyu”.
Ketika Nabi Ibrahim menyembelih putranya, Allah menggantinya dengan kambing gibas, berbulu putih, dan bertanduk, yang diikat dipohon samurah. Mayoritas mufassir mengatakan bahwa gibas tersebut telah digembalakan di surga selama 40 tahun.
Akan tetapi terdapat perselisahan diantara para mufassir, siapakah sebenarnya anak yang disembelih tersebut, apakah Nabi Ismail atau Nabi Ishaq?. Hamzah Az-Zayyat telah meriwayatkan dari Abu Maisarah, mengatakan bahwa suatu saat Nabi Yusuf pernah berkata kepada raja dalam alasannya, “Apakah engkau menginginkan makan bersamaku, sedangkan aku adalah Yusuf Ibnu Ya’qub Ibnu Ishaq sembelihan Allah Ibnu Ibrahim kekasih Allah?. Sebagaimana juga riwayat dari As-Sauri dari Abu Sinan dari Ibnu Abul Huzail bahwa Nabi Yusuf mengatakan hal yang sama kepada raja.
Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Zaid Ibnu Aslam bahwa Nabi Musa pernah berkata dalam do’anya “Ya Tuhanku, mereka selalu mengatakan demi Tuhan Ibrahim, Ishaq, Ya’qub. Mengapa mereka selalu mengatakan hal tersebut? Allah menjawab “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang tidak membandingkan sesuatu dengan-Ku, melainkan dia pasti memilih-Ku. Dan sesungguhnya Ishaq telah rela disembelih demi Aku. Dan Ya’qub itu manakala Ku-tambahkan kepadanya cobaan maka bertambah pulalah baik prasangkanya kepada-Ku”.
Ibnu Jarir juga mengatakan dari Al-Abbas Ibnu Abdul Muthalib dari rasulullah  dalam hadits yang di dalamnya disebutkan bahwa anak yang disembelih adalah Ishaq.
Pendapat-pendapat yang telah disebutkan di atas semuanya bersumber dari Ka’bul Akhbar. Seorang yang masuk Islam di masa khalifah Umar bin Khatab. Sehingga dia menceritakan kepada Umar tentang apa yang terkandung di dalam kitab terdahulu. Maka barangkali Umar mendengarkan dan bahkan menukil darinya, baik yang masih asli maupun yang telah dipalsukan. Dalam sanad hadits di atas terdapat dua perawi yang dhaif, yang berpredikat matruk, dan salah satu perawinya haditsnya munkar.
Ibnu Ishaq mengatakan, ia pernah mendengar Muhammad Ibnu Ka’b Al-Qurazi mengatakan bahwa anak yang Nabi Ibrahim yang disembelih diantara kedua putranya adalah Nabi Ismail. Dan sesungguhnya kami benar-benar menjumpai keterangan tersebut dalam kitabullah. Demikian setelah Allah selesai mengutarakan kisah anak yang disembelih di antara kedua anak Nabi Ibrahim, lalu Allah berfirman “Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan dari Ishaq (akan lahir puteranya) Ya'qub.” (QS. Hud: 71).
Yakni Nabi Ibrahim akan mempuyai anak, dan anaknya juga akan mempunyai anak. Jadi tidak mungkin Allah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim agar menyembelih Ishaq, sedangkan Ishaq telah dijanjikan akan mendapat keturunan sesuai dengan ketetapan Allah. Dengan demikian tiada lain putra Nabi Ibrahim yang diperintahkan untuk disembelih hanyalah Ismail.
Ibnu Ishaq meriwayatkan ketika Umar bin Abdul Aziz menjabat sebagai khalifah, dan saat itu Muhammad bin Ka’b Al-Qurazi bersamanya, kemudian beliau berkata “Sesungguhnya berita ini merupakan suatu berita yang belum pernah saya perhatikan, dan sesungguhnya saya hanya berpendapat seperti yang engkau katakan”. Selanjutnya Umar bin Abdul Aziz memanggil seorang lelaki Yahudi dari Syam yang telah masuk Islam, dan berkata “Manakah diantara kedua putra Ibrahim yang diperitahkan agar disembelih?. Lelaki itu menjawab “Demi Allah, sesungguhnya orang-orang Yahudi bena-benar mengatakan hal tersebut tapi mereka dengki terhadap kalian bangsa Arab bila nenek moyang kalian yang disebutkan dalam perintah Allah, keutamaan yang dimiliki berkat kesabarannya saat menghadapi perintah Allah. Mereka berbalik mengingkari hal tersebut dan menduga bahwa yang disembelih itu adalah Ishaq, karena Ishaq adalah bapak moyang mereka. Hanya Allah yang lebih mengetahui mana yang sebenarnya, yang jelas Ishaq adalah orang yang taat kepada Allah”.
Sesungguhnya, apa yang dijadikan pegangan oleh Ibnu Jarir dalam kitab tafsirnya bukan merupakan suatu pendapat yang benar, bukan pula merupakan hal yang pasti. Bahkan jauh sekali dari kebenaran, mengingat apa yang telah disimpulkan oleh Muhammad Ibnu Ka’b Al-Qurazi bahwa yang disembelih adalah Ismail merupakan pendapat yang lebih kuat dan lebih shahih serta terbukti kebenarannya. Wallahu ‘alam bish shawwab...
Referensi:        Tafsir Ibnu Katsir juz 12, hal 44
                        Ma’alimut Tanzil, Al-Baghawi, juz 7 hal 50
                        Qishasul Ambiya’, Ibnu Katsir hal 205

Tidak ada komentar: