وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan
yang besar.”
(QS. As-Shafat:107)
Nabi Ibrahim secara kronologis adalah seorang tidak mengenal putus
asa untuk mendapatkan seorang anak. Disertai doa dengan sabar
beliau selalu menanti seorang anak sholeh yang kelak dapat menjadi penerusnya. Hingga
suatu saat Allah mengabulakan doanya kendatipun umur beliau ketika itu 86
tahun.
Ditengah Nabi Ibrahim menikmati karunia Allah berupa seorang anak,
Allah hendak menguji iman kekasihnya, apakah kasih sayang Nabi Ibrahim terhadap
putranya melebihi kasih sayangnya terhadap Allah. Melalui mimpi Nabi Ibrahim
mendapat perintah untuk menyembelih putranya. Sebagaimana hadits dari Ibnu
Abbas “Bahwa mimpi para nabi adalah wahyu”.
Ketika Nabi Ibrahim menyembelih putranya, Allah menggantinya dengan
kambing gibas, berbulu putih, dan bertanduk, yang diikat dipohon samurah. Mayoritas
mufassir mengatakan bahwa gibas tersebut telah digembalakan di surga selama 40
tahun.
Akan tetapi terdapat perselisahan diantara para mufassir, siapakah
sebenarnya anak yang disembelih tersebut, apakah Nabi Ismail atau Nabi Ishaq?. Hamzah
Az-Zayyat telah meriwayatkan dari Abu Maisarah, mengatakan bahwa suatu saat
Nabi Yusuf pernah berkata kepada raja dalam alasannya, “Apakah engkau
menginginkan makan bersamaku, sedangkan aku adalah Yusuf Ibnu Ya’qub Ibnu Ishaq
sembelihan Allah Ibnu Ibrahim kekasih Allah?. Sebagaimana juga riwayat dari
As-Sauri dari Abu Sinan dari Ibnu Abul Huzail bahwa Nabi Yusuf mengatakan hal
yang sama kepada raja.
Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Zaid Ibnu Aslam bahwa Nabi
Musa pernah berkata dalam do’anya “Ya Tuhanku, mereka selalu mengatakan demi
Tuhan Ibrahim, Ishaq, Ya’qub. Mengapa mereka selalu mengatakan hal tersebut?
Allah menjawab “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang tidak membandingkan
sesuatu dengan-Ku, melainkan dia pasti memilih-Ku. Dan sesungguhnya Ishaq telah
rela disembelih demi Aku. Dan Ya’qub itu manakala Ku-tambahkan kepadanya cobaan
maka bertambah pulalah baik prasangkanya kepada-Ku”.
Ibnu Jarir juga mengatakan dari Al-Abbas Ibnu Abdul Muthalib dari
rasulullah dalam hadits yang di dalamnya
disebutkan bahwa anak yang disembelih adalah Ishaq.
Pendapat-pendapat yang telah disebutkan di atas semuanya bersumber
dari Ka’bul Akhbar. Seorang yang masuk Islam di masa khalifah Umar bin Khatab.
Sehingga dia menceritakan kepada Umar tentang apa yang terkandung di dalam
kitab terdahulu. Maka barangkali Umar mendengarkan dan bahkan menukil darinya,
baik yang masih asli maupun yang telah dipalsukan. Dalam sanad hadits di atas
terdapat dua perawi yang dhaif, yang berpredikat matruk, dan
salah satu perawinya haditsnya munkar.
Ibnu Ishaq mengatakan, ia pernah mendengar Muhammad Ibnu Ka’b
Al-Qurazi mengatakan bahwa anak yang Nabi Ibrahim yang disembelih diantara
kedua putranya adalah Nabi Ismail. Dan sesungguhnya kami benar-benar menjumpai
keterangan tersebut dalam kitabullah. Demikian setelah Allah selesai
mengutarakan kisah anak yang disembelih di antara kedua anak Nabi Ibrahim, lalu
Allah berfirman “Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum,
maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan dari
Ishaq (akan lahir puteranya) Ya'qub.” (QS. Hud: 71).
Yakni Nabi Ibrahim akan mempuyai anak, dan anaknya juga akan
mempunyai anak. Jadi tidak mungkin Allah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim agar
menyembelih Ishaq, sedangkan Ishaq telah dijanjikan akan mendapat keturunan
sesuai dengan ketetapan Allah. Dengan demikian tiada lain putra Nabi Ibrahim
yang diperintahkan untuk disembelih hanyalah Ismail.
Ibnu Ishaq meriwayatkan ketika Umar bin Abdul Aziz menjabat sebagai
khalifah, dan saat itu Muhammad bin Ka’b Al-Qurazi bersamanya, kemudian beliau
berkata “Sesungguhnya berita ini merupakan suatu berita yang belum pernah saya
perhatikan, dan sesungguhnya saya hanya berpendapat seperti yang engkau
katakan”. Selanjutnya Umar bin Abdul Aziz memanggil seorang lelaki Yahudi dari
Syam yang telah masuk Islam, dan berkata “Manakah diantara kedua putra Ibrahim
yang diperitahkan agar disembelih?. Lelaki itu menjawab “Demi Allah,
sesungguhnya orang-orang Yahudi bena-benar mengatakan hal tersebut tapi mereka
dengki terhadap kalian bangsa Arab bila nenek moyang kalian yang disebutkan
dalam perintah Allah, keutamaan yang dimiliki berkat kesabarannya saat
menghadapi perintah Allah. Mereka berbalik mengingkari hal tersebut dan menduga
bahwa yang disembelih itu adalah Ishaq, karena Ishaq adalah bapak moyang
mereka. Hanya Allah yang lebih mengetahui mana yang sebenarnya, yang jelas Ishaq
adalah orang yang taat kepada Allah”.
Sesungguhnya, apa yang dijadikan pegangan oleh Ibnu Jarir dalam
kitab tafsirnya bukan merupakan suatu pendapat yang benar, bukan pula merupakan
hal yang pasti. Bahkan jauh sekali dari kebenaran, mengingat apa yang telah
disimpulkan oleh Muhammad Ibnu Ka’b Al-Qurazi bahwa yang disembelih adalah Ismail
merupakan pendapat yang lebih kuat dan lebih shahih serta terbukti
kebenarannya. Wallahu ‘alam bish shawwab...
Referensi: Tafsir Ibnu
Katsir juz 12, hal 44
Ma’alimut
Tanzil, Al-Baghawi, juz 7 hal 50
Qishasul
Ambiya’, Ibnu Katsir hal 205
Tidak ada komentar:
Posting Komentar