Kamis, 26 Januari 2017

Menerawang Masa Depan :-)



26 Januari 2017

Sejenak merancang masa depan...
Kalau mimpi memang dijamin jadi kenyataan saat ini aku akan bermimpi merangkul kekasih bertemu Ar-Rahman...

Salah, itu bukan hanya mimpi, tapi harapan besar yang aku yakin semua orang juga berharap demikian. Tak masalah kita berharap pada hal yang sama, bahkan untuk masalah ini kita memang harus sama. 

Tapi ada banyak hal yang membuat kita berbeda angan. Aku yang berharap menjadi manager rumah tangga dengan seribu satu keahlian yang sedang aku tanam. Kalau bukan karena aku berharap anak-anakku kelak ikut dalam barisan para pejuang Islam, enggan aku langkahkan kaki menuju tempat ini. 

Bukan pengangguran, ada banyak hal yang bisa dikerjakan, mulai dari sekjen yang mengatur jam kerja jendral, motivator untuk para calon pejuang, konsultan untuk para klaien, guru untuk para murid, dan seabreg jadwal yang harus dikerjakan sekaligus. 

Yah, tak ada yang sia-sia, karena itu memang tugas utama yang harus aku emban. Tak perlulah bilang percuma atau sayang. Tenanglah kalau satu masalah itu beres yang lain tak kalah beres. Semua pasti mengikuti, tinggal menejemen yang baik aja. 

Itu aku, dan kamu tak perlu melirik. Aku tahu dalam hal ini kita memang tak pernah sama. Tapi aku tetap yakin visi kita sama, walaupun memang aplikasi dimensinya berbeda. Tak masalah...
Karena aku akan merancang skenarioku, dan kamu akan menjalankan episode kamu....:-)

Iseng aja &%&^())O)*^%^&*(

Kamis, 15 Desember 2016



Break...
Beberapa hari terakhir ini sibuk, tapi tak perlulah ditanya sibuk apa...

Bahkan kesibukan yang aku jalani seakan melebihi pegawai resailler yang meladeni harbolnas, ditambah para pelanggan yang sukanya hanya melihat barang yang lagi anjkok terus memesan barang, lalu melihat harga ogkir yang melangit ujung-ujungnya nggak jadi pergi ke alfamart, alias nyoba doang... :-X

Menjelang ujian akhir semester, yang bisa jadi terakhir juga menjalani masa ujian (Hiks... kalo nuruti kata hati serasa nggak mau terjadi) sepertinya butuh peningkatan kwalitas belajar. Nggak Cuma butuh, tapi memang harus ditingkatkan. Bukan berarti ujian yang kemarin nggak berkwalitas, tapi peningkatan kwalitas lebih penting. Iya kan?

Untuk seminggu kedepan ‘semangat belajar’...

Jangan diforsirlah, tapi kondisikan eksistensi belajar. Butuh lebih banyak fokus berfikir. Kalau kata ustadzku dulu ‘belajar bukan untuk ujian’, entah tahun kapan ungkapan itu diucapkan, yang pasti sampae saat ini pun aku masih mengalami kesusahan untuk mencerna sebaris kalimat itu. Tapi selalunya ingatan tentang kalimat itu datang bersamaan dengan masa ujian hadir. Yang mungkin sudah sekawan, jadi kalu ada yang datang duluan mungkin serasa nggak afdhol.

Kesimpulan ringan yang bisa aku uraikan dari kalimat itu kurang lebih ‘belajar itu nggak Cuma kalo masa ujian datang, tapi setiap saat. Jadi kalo yang datang pas si ujian status bukunya masih sama buat belajar’. Kalau nggak salah sih gitu, kalau salah ya tinggal benerin...

Mungkin usahaku disini hanya secuil dari keberhasilan yang Allah titipkan (sungguh hinalah jika dibanggakan), dan sebagian besar keberhasilan yang Allah rahmatkan tak lain adalah karena kasih sayang Allah dalam menyambut doa yang telah kalian panjatkan...

Selamat menjalankan ujian ‘buat yang besok mau ujian’ معكم النجاح و الفلاح  semoga Allah mengganjar ujian kita tidak hanya dengan nilai sempurna tapi juga dengan surga yang diridhoi-Nya.... Aamiin,,,
15 Desember 2016

Selasa, 13 Desember 2016


Hasil gambar untuk gambar nrimo

Edisi Santay… 13 Desember 2016

Kalu kata orang “hidup itu dinikmati aja” boleh juga, maksudnya menikmati semua yang telah Allah gambarkan buat, aku, kamu, dia, kita, mereka, beliau, dikau, dan semua kata ganti orang:-D

Yang artinya kita tidak boleh alias dilarang buat mengutuk keputusan yang hari ini sedang kita gauli. Istilah jawanya ‘nggresulo’ buat orang yang paham bahasa jawa mungkin itu kosa kata yang tepaat sasaran.

Walaupun terkadang menjadi potret miris, anak-anak kecil berlarian di lampu merah menjajakan Koran, Bapak tua lumpuh yang terpaksa mengayuh becak tuanya, kuli yang semakin langsing dimakan keringat senja, sampai pasien yang rela berbulan-bulan ndekem di rumah sakit karena penyakit gula.

Sabar, tinggal gigit jari, eh jalani maksudnya… Yakinlah disetiap malam yang gelap selalunya ada rembulan yang tak pernah bosan memberikan senyuman. Sama halnya dengan kesabaran ulat yang sedang reinkarnasi menunggu perubahan menjadi kupu-kupu. Itu sudah lumrah, rumus kehidupan yang udah Allah rapatkan dalam surat Alam nasyrah ayat: cari sendiri man-teman, biar gak spaneng…:D

Kalo istilah ringannya sabar itu sepanjang masa, ga ada batasnya. Kalu masih dibatasi belum berhasil menyabet gelar sabar.

Dinamika hidup yang memang sulit dimengerti, karena hidup memang gak cuma untuk dimengerti tapi juga dijalani. Jadi kalo man-teman gak sabar, alias belum bisa nrimo yah siap-siap aja ga dapat uang saku sekolah, Eh… maksudnya Honda dari Allah.
Jadi merasa ingin hidup sepanjang masa dengan yang namanya sabar itu. # فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ

Minggu, 06 November 2016


WALIMATUL ‘URS SESUAI SYARI’AT
Oleh: Muwahidah

Review Ditulis Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Metodologi Skripsi
Dosen Pengampu: Ust. Junaidi Manik


Reviewer:
Ni’matul Mahmudah
Nim: 014.09.0160

AL-MA'HAD AL-'ALY LIDDIRASAH AL-ISLAMIYYAH
HIDAYATURRAHMAN
SRAGEN
2016
I.                   Analisa Terhadap Judul Skripsi.
Skripsi merupakan sebuah karya ilmiyah yang juga membutuhkan pemilihan judul yang ilmiyah. Sedangkan pada judul skripsi ini pemilihan judul menurut reviewer belum ilmiyah dan masih sangat umum, maka reviewer menyarankan judul KONSEP WALIMATUL ‘URS MENURUT PERSPEKTIF ISLAM.
II.                PENDHULUAN
a.       Latar Belakang Masalah
Sesungguhnya ikatan terpenting yang bisa meneguhkan kehidupan seseorang di dunia dan akhirat adalah ikatan pernikahan. Iktan ini menuntut adanya kerjasama yang erat dengan orang yang sebelumnya asing dalam kehidupannya. Dalam hal ini telah dianjurkan bagi yang menikah agar menyelenggarakan pesta pernikahan atau walimatul ‘urs, yang mana acara itu dilaksanakan dengan berbagai cara menurut suku dan daerah masing-masing. Yang mana banyak kita temukan hal-hal yang diada-adakan dan yang bernuansa jahily.
Fenomena yang terjadi pada hari ini, masih banyak masyarakat yang belum memahami betul tentang bagaimana resepsi yang disyari’atkan. Terkadang mereka mengadakan walimatul ‘urs yang di dalamnya terdapat suatu acara yang bernuansa jahily dan juga terdapat subhat-subhat serta kebid’ahan yang dilarang oleh syari’at.
Dalam latar belakang masalah perlu dikemukakan gambaran keadaan atau realita yang menjadi sumber masalah, sehingga menuntut adanya sebuah pembahasan khusus untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dalam latar belakang yang dikemukakan oleh Muwahidah masih umum dan belum menyertakan contoh realita resepsi yang mengandung unsur bid’ah atau syubhat, yang membutuhkan sebuah pembahasan untuk meluruskan. Akan tetapi alur dalam pemaparan latar belakang masalah dalam skripsi Muwahidah sudah sesuai dengan judul yang ditulis.
Ditemukan juga dalam skripsi Muwahidah beberapa kalimat yang tidak sesuai dengan kaedah penulisan skripsi. Seperti kalimat arab yang ditulis Indonesia akan tetapi tidak dicetak miring, contoh walimatul ‘urs.  Dan kata “jahily” yang mana dalam istilah Indonesia seharusnya “jahiliah”, dan beberapa kalimat lain.
b.      Rumusan Masalah
Menurut uraian pemaparan latar belakang masalah diatas maka dapat dirumuskan sebagai merikut:
1.      Babaimana pernikahan secara syar’i?
2.      Bagaimanakah ketentuan-ketentaun syar’i dalam walimah?
3.      Apa sajakah kemunkaran-kemunkaran yang terjadi dalam waliamah?
4.      Bagaimana gamabaran walimah syar’i dan jahily?
Rumusan masalah dalam skripsi Muwahidah sudah konsisten dengan pernyataan pada permasalahan. Akan tetapi untuk rumusan masalah pada nomor 1 dan 2 mengandung unsur pembahasan yang sama, sehingga cukup dirangkum menjadi satu rumusan masalah. Juga pada nomor 4 tidak perlu dicantumkan, karena gambaran walilah syar’i sudah masuk dalam pemaparan rumusan masalah di nomor 1, dan untuk walimah jahily juga bisa masuk pada pemaparan rumusan masalah di nomor 3.
c.       Tujuan Penulisan
Penulis memilih tema ini karena penulis mempunyai tujuan untuk:
1.      Memahamkan kepada masyarakat tentang pernikahan secara syar’i.
2.      Memahamkan masyarakat mengenai gambaran walimah yang syar’i.
3.      Memberikan kepada masyarakat bahwa walimah yang syar’i adalah suatu cara yang tepat dan sesuai syari’at yng diberkahi oleh Allah SWT.
Tujuan penulisan dalam skripsi Muwahidah sudah bisa mewakili maksud atau tujuan ditulisnya skripsi ini. Namun, tujuan penulisan merupakan jawaban dari pernyataan dalam rumusan masalah, maka seharusnya ada 4 point. Namun berhubung rumusan masalah di atas bisa disingkat menjadi 2 point, maka tujuan penulisan cukup 2 point juga. Untuk 3 point tujuan penulisan di atas memiliki pembahasan yang sama maka lebih baik cukup dijadikan satu point saja. Dan point yang kedua adalah memahamkan tentang syubhat atau bid’ah yang terjadi di masyarakat. Sehingga selain memahamkan masyarakat bagaimana konsep walimatul ‘urs secara syar’i, masyarakat juga paham mengenai kemunkaran atau syubhat seputar walimatul ‘urs.
d.      Manfaat Penulisan
Semoga tulisan ini dapat memberikan penopang bagi tegaknya syari’at dimukan bumi dan menjaukan manusia dari segala macam bentuk syubhat yang tidak sebuai dengan syari’at.
e.       Sistematika Pembahasan
Penulisan ini disusun dengan sistematika penyusunan sebagai berikut:
BAB I             : Pendahuluan meliput latar belakang masalah, rumusan maslah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, dan sistemtika penulisan.
BAB II            : Pokok pembahasan yang meliputi Pengertian, Hukum, Dalil-Dalil, serta Hikmah waimah. Gambaran-gambaran singkat seputar walimatul ‘urs syar’i dan walimatul ‘urs jahily, sebagai pembanding antara keduanya. Ketentuan-ketentuan syar’i dalam walimah yang mengenai hukum mendatangi walimah, Waktu pelaksanaan walimah, Adab-adab dalam walimah, Syarat-syarat wajib mendatangi walimah serta kemunkaran-kemunkaran dalam walimah.
BAB III          : Penutup yang meliputi kesimpulan, saran, dan penutup.
Yang biasa digunakan dalam metodologi penulisan skripsi adalah sistematika penulisan bukan sistematika pembahasan. Dalam penyusunan skripsi sistematika penulisan hanya disusun menjadi tiga bab, sehingga semua pembahasan mengenai pokok permasalahan masuk pada bab II. Maka agar penyusunan skripsi lebih sistematis hendaknya pemetaan masalah lebih diperinci. Untuk pembahasan umum seputar walimah seperti pengertian, hukum dalil, serta hukmah walimah dirangkum menjadi satu bab, atau bab II. Dan pembahasan inti masalah seperti gambaran walimah secara syar’i dan juga kemunkaran yang terjadi di dalamnya rirangkum juga dalam satu bab tersendiri, yaitu bab III.